12/26/2013

Zaman dimana gak punya pacar di Bilang..Abnormal...

Di zaman globalisasi ini, sering kita sebagai muslim/muslimah dipertanyakan?

“punya pacar?”; “punya mantan berapa?”; “koleksi loe uda berapa?” atau mungkin “uda ngapain aja sama si ayank?"

Betul Tidak...?

Kita orang Indonesia yang dikenal sebagai bangsa Timur yaitu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai, malah lebih sering terlihat/mencerminkan seperti bangsa barat yang menganut paham liberalisme (kebebasan).

Bagi remaja, hidup di zaman millennium ini tuntutan gaul gak bisa terelakkan. Akan dibilang aneh bin cupu, bahkan abnormal kalo gak gaul. Bahkan menjadi anak gaul kayaknya menjadi impian setiap remaja.

Menyandang label anak gaul bisa bikin pede abis. Ke sekolah serasa jadi bintang, ke mall serasa jadi pusat perhatian, jalan-jalan serasa jadi jadi raja jalanan.

Apa iya gaul yang seperti itu suatu keharusan?

Kalo kita gak tau gossip terkini, dicap kudet. Kalo kita gak pake baju super mini dan ketat, dibilang norak, ketinggalan zaman. Kalo bulu alis masih orisinil dan rambut gak dicat, berarti kita gak ngikutin tren. Kalo gg nenteng HP keluaran terbaru dibilang cupu atau bahkan GA GANDENG COWO/CEWE (truck gandeng kali yaaa) dibilang gak laku. Kalo belum pernah makan burger atau pizza dicap kuno. hadeehhhh...

Lama-kelamaan, kalo kita seumur hidup gak pernah ngejabanin kafe, diskotik dianggap manusia purba kali yaaa...

Walhasil, gara-gara pengen dicap anak gaul, anak SD yang mau lulus malu kalo belum ngerokok. Yang SMP juga berlomba ngumpulin koleksi artis idolanya. Si putih abu-abu juga tengsin kalo masih nyandang predikat JOMBLO, akhirnya pake 643240 jurus buat menarik perhatian lawan jenis. Yang udah jadi mahasiswa? Lebih-lebih Malu kalo gak tau ngerasain yang nama kissing atau making love. Sebaliknya, malah merasa bangga dan gaul kalo uda “macem-macem” sama pasangan ilegalnya itu. Naudzubillah...,

Apa seperti itu gaul yang sehat? Apa Islam gak punya tuntunan dalam bergaul? Jawaban: ADA!, termasuk menyikapi rasa cinta. Rasa cinta itu memiliki makna yang luas, gak cuma mencakup cinta sesama lawan jenis saja. Cinta terhadap diri sendiri (bukan egois), cinta terhadap orang tua, cinta terhadap sesama dan CINTA yang PALING HAKIKI adalah Cinta pada Dzat Yang Maha Kekal, Allah Subhana wa Ta’ala.

Inilah cintanya orang musyrik. Barangsiapa mencintai sesuatu sebagaimana ia mencintai Alloh, yang ia lakukan bukan karena Alloh dan bukan karena mencari ridha-Nya, sesungguhnya ia telah menjadikan sesuatu sebagai tandingan Alloh. Dan inilah kecintaan yang dilakukan oleh orang-orang yang musyrik. Menjadikan cinta sebagai berhala, disembah-sembah.

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al-Baqarah ayat 165)

Mereka mencintai selain Alloh sama atau bahkan melebihi cinta mereka pada Allah. Kehidupan dunia lebih dicintai daripada kehidupan akhirat. Mereka tertipu dan berada dalam kerugian.
Alloh berfirman: “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat dan bahwasannnya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.” (An Nahl ayat 107)

Lantas bagaimana dengan cinta terhadap lawan jenis? Apakah Islam melarangnya? Apa Islam punya solusi bagaimana mengatasi persoalan cinta? Jawabannya : Iya, Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan. Sejatinya, kita sebagai muslim menjadikan Islam 'as our way life;

Kenapa? karena semua sudah tertera dalam Al-Qur’an
yaitu, Firman Alloh,

"Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku ridhoi Islam sebagai agamamu” (Al-Maidah ayat 3)

Lantas bagaimana Islam mengatur soal cinta? Ada Firman Allah dalam surat Al-Imran ayat 14

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Ada pula Firman Allah yang lain, yaitu,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." (Maryam ayat 96)

Jadi, cinta itu adalah fitrah. Jagalah ia jangan sampah jadi FITNAH. Jangan mentang-mentang cinta itu fitrah, kita jadikan alasan untuk bebas mencintai dan mengemas hubungan dengan pacaran. Bukan dengan alasan itu kemudian berdalih apa yang kita lakukan dalam pacaran adalah sebagai wujud dari sifat fitrah yang kita miliki.

Pacaran diidentikan dengan bunga mawar, warna merah jambu, seabrek kado, perayaan hari jadian, jalan-jalan, SMS atau teleponan tiap hari, mojok dua-dua-duaan, perayaan valentine. Ooppss…masa kita sebagai Muslim uda pacaran bahkan ikut-ikutan budaya valentine..?

Katanya sih pacaran itu langkah awal mencari seseorang teman dekat dalam menuju proses pendewasaan kepribadian.
Masa sih?
Kepribadian yang dewasa gak ada hubungannya dgn pacaran. Orang yang banyak pengalaman pacaran gak menjamin memiliki kepribadian dewasa. Malah sebaliknya, gak sedikit gara-gara pacaran, kepribadian seseorang itu rapuh. Misalnya bgitu diputusin pacar, galau. Gak sedikit juga yang lebih memilih bunuh diri? Apa itu orang yang memiliki kepribadian dewasa?

Pacaran juga sering dianggap sebagai bentuk penjajakan untuk mendapatkan jodoh. Argumennya, sebelum mngambil keputusan menikah, ada baiknya “menguji” si calon itu tadi. Kalo memang pacaran untuk mencari jodoh, mestinya benar-benar yang punya pikiran matang donk yang melakukan? Tapi kenapa malah banyak pelaku pacaran adalah pelajar ber-rok biru atau si rok abu-abu? Atau bahkan si bocah bau kencur ber-rok merah sudah aktif dalam pacaran? Subhanalloh…!!!

Lantas apa tujuan pacaran? Apa karena punya rencana menikah? Jelas enggak! Jelas karena belum bisa menikah, mereka berpacaran. Semua syahwat yang dilarang (sebelum waktunya) oleh Islam justru mendapatkan penyaluran dalam pacaran. Mereka merasa bahwa pacaran itu membawa kebahagiaan dan kenikmatan, padahal mereka tercebur di lautan dosa.

Ada pula yang menyebutkan untuk saling mengenal satu sama lain dan belajar untuk saling menyempurnakan, saling mengerti, saling berusaha mnjadi yg terbaik bagi pasangan, saling menasehati, saling melayani, saling membantu, saling bertumbuh keimanan pada Dia yang telah menciptakan pasangan yaitu Alloh. Tentu kita akan terheran, sebelah mana pacaran dapat menumbuh keimanan? Apa dgn berdua-dua, berpegang tangan dan bahkan berhubungan intim? Naudzubillahi mindzalik.

Saling melayani? Melayani dlm hal apa? Ya, mereka memang saling melayani dalam berbuat maksiat dgn bersentuhan, berciuman bahkan bermesuman. Mungkin awalnya mereka hanya belajar bersama,makan bersama, berjalan bersama, hingga nantinya setan membisiki mereka untuk tidur bersama. Pacaran sendiri lebih menguntungkan pihak lelaki daripada perempuan. Lelaki bisa seenaknya merasakan tubuh wanita dgn alasan cinta.
Ironisnya, si gadis juga merelakan bgitu saja tubuhnya disentuhi pacaranya krn janji akan dinikahi. Hingga akhirnya hamil dan mengugurkan janinnya. Subhanallah, rentetan dosa telah terjadi.

Semoga Alloh menjauhkan kita dari perbuatan demikian. Menjaga hati kita dari noktah hitam yang dapat menghantarkan kita pada kubangan nista. Allohumma arinal haqqo-haqqon warzuqnat tibaa'ah wa arinal bathila-bathilan warzuqnaj tinaabah, birahmatika yaa Arhamarraahimiin. Aamiin.


Sumber : Tausiyahku... 


No comments:

Post a Comment